Inilah Waktu Tidur yang Buruk dan Mengganggu Kesehatan

Tidur merupakan nikmat yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hambaNya yang juga merupakan sarana beristirahat bagi seseorang yang telah seharian beraktivitas. Dengan tidur yang cukup, kita mendapatkan kembali kesegaran badan, kesiapan beraktvitas dan konsentrasi yang makin mantap. Lebih penting lagi, tidur dapat menjadikan kita makin optimal dalam beribadah kepada Allah. Namun, ada beberapa waktu yang dimakruhkan untuk tidur karena dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikis seseorang.

Beberapa Waktu Tidur yang Buruk dan Mengganggu Kesehatan

  1. Tidur Setelah Makan

Abu Nu’aim menyebutkan, Rasulullah saw menolak segera tidur setelah makan karena dapat mengeraskan hati. Para dokter juga menasihatkan orang untuk berjalan, meskipun hanya beberapa langkah setelah makan malam, sebab langsung tidur setelah makan malam sangat berbahaya. Pada dokter muslim menambahkan bahwa orang juga dapat melakukan shalat setelah makan malam agar makanan tetap bertahan dalam perut sehingga dengan mudah dapat dicerna.

 

  1. Tidur Sepanjang Hari

Tidur semacam ini sangat buruk bagi kesehatan dan dapat menyebabkan penyakit-penyakit. Akibat yang nampak jelas adalah wajah menjadi pucat, merusak limpa dan melemahkan syaraf. Selain itu, pelakunya juga bisa menjadi malas, pelupa, dan menyia-nyiakan waktu.

  1. Tidur setelah Shubuh dan pada Awal Pagi

Nabi saw bersabda, “Ya Allah, berkahilah bagi umatku pada pagi harinya.”

Ibnul Qoyyim telah menyatakan keutamaan awal hari dan kemakruhan menyia-nyiakan dengan tidur seraya berkata;
“Termasuk hal yang makruh bagi orang shalih adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu sangat berharga. Orang-orang shalih mempunyai kebiasaan yang menarik dan agung sekali dalam memanfaatkan waktu tersebut, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam, mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari, sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rezeki, pembagian nasib, turunnya keberkahan, dan asal muasal hari bergulir. Bahkan mereka sanggup mengembalikan segala kejadian hari itu sebagai barter kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidur pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa.” [Madarijus Saalikiin i/459]

Baca Juga:  Tips & Trik Bila Anak Mogok Makan

 

Dr. Zahir Rabih dalam bukunya “Pengobatan dangan Shalat” berkomentar, “Hormon kortisol yang merupakan hormon aktivitas dalam tubuh manusia mulai bertambah seiring dengan masuknya waktu fajar. Seiring dengan pertambahan produksi hormon itu, tekanan darah juga mengalami kenaikan secara bertahap. Karena itulah manusia merasa sangat bergairah dan memiliki semangat yang besar setelah shalat fajar antara pukul enam pagi hingga sembilan pagi. Karena itulah waktu  itu dianggap sebagai waktu yang paling baik untuk bekerja mencari rezeki. Selain itu, pada waktu pagi juga merupakan waktu puncak ozon ini mempengaruhi aktivitas jaringan syaraf manusia, sehingga cocok untuk pekerjaan yang mengutamakan analisa intelektual dan akal.

 

  1. Tidur pada waktu Ashar

Tidur pada waktu ini dapat mengakibatkan jiwa seseorang melemah, bahkan dapat menyebabkan kegilaan. Tak jarang, ketika seseorang tidur pada waktu antara Ashar dan Maghrib, ketika bangun mereka merasa pusing atau bingung.

 

  1. Tidur sebelum Isya

Dari Abu Barzah ra, “Rasulullah membenci tidur sebelum shalat Isya dan mengobrol setelahnya.” HR Bukhari dan Muslim.

 

Banyak tidur dapat mengakibatkan berbagai macam kerugian, baik dari sisi kesehatan fisik, psikis maupun ruhani. Sebaliknya menahan tidur atau bahkan tidak tidur sama sekali sama artinya mengundang resiko yang cukup besar bagi pelakunya. Tidak tidur dapat mengakibatkan cairan tubuh tidak normal dan mengering. Mata menjadi tegang dan perih karena dipaksa untuk terus terjaga. Hati dan semua anggota badan secara bersamaan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Daya tahan tubuh menurun dan berbagai penyakit pada akhirnya akan mudah datang. Maka, tidurlah secukupnya dan tidak berlebihan.

Leave a Reply